Cerita Di Balik Buku Rumah Kedua

Nulis yuk maaak!

29 September 2020 05:08 PM Pesan WhatsApp itu masuk ke handphone dari seorang teman. Pesan itu datang dengan sebuah file gambar yang mendeskripsikan kegiatan NuBar (Menulis Bareng) yang akan segera dikerjakan. Jempol otomatis merespon “hajaarrr!!” tanpa sedikitpun ingin sejenak memberi waktu untuk menimbang dan berkata “tunggu sebentar…”

Moment tersebut mengingatkan saya pada pendapat Sabrang MDP bahwa free will atau kehendak bebas manusia sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum kita mengatakan “iya”, “tidak”, bahkan “tunggu sebentar”. Nanti kapan-kapan kita bedah soal free will ini ya!

Rasanya memang demikian, ada tumpukan memori tubuh yang sudah bersorak menyambut sebelum otak mampu memproses untuk mengajukan protes. Yang benar saja, ibu bekerja dengan 3 anak mau nulisnya itu kapan? Lha wong waktu untuk tidur aja kurang kok berani-beraninya mau setor naskah untuk dibukukan?

Suatu hari pasti kalian pernah tiba di sebuah persimpangan jalan untuk mengambil keputusan, saya suka menyebutnya dengan istilah “golden moment”. Ya, keputusan otomatis si jempol tadi adalah sebuah golden moment saya. Kemudian setelah dijalani dan menengok kembali, mungkin inilah yang dimaksud thesis statement Steve Jobs mengenai “connecting the dots”. Maka nasihat terbaik untuk kalian yang tiba di sebuah persimpangan keputusan adalah sama dengan nasihat yang beliau katakan yaitu ikuti kata hati.

Mengikuti kata hati itu meringankan langkah kaki, bagaimana tidak? kita tinggal terhanyut mengikuti aliran sungai yang sudah diberikan Ilahi.

Long story short, perjalanan pertama saya menamatkan cerita dimulai. Ibarat mesin motor yang sudah lama dicuekin, tombol starter pun tak mampu menghidupkan si mesin. Harus dengan tenaga kaki berkali-kali akhirnya si mesin terbangun dengan terbatuk-batuk. Begitu pula dengan halaman pertama cerita saya.

Dari mulai mengheningkan cipta di depan layar laptop tanpa satu kata pun mampu terketik sampai dengan jurus ketik hapus ketik hapus repeat, lama-lama saya mulai “panas” dan menggelinding dibawa cerita.

Menjalani apa yang kita sukai ternyata menghasilkan energi yang memampukan kita membayar konsekuensi dengan ringan hati. Perjalanan rumah-office-rumah menggunakan MRT yang biasanya saya gunakan untuk menikmati podcast sambil duduk santai, sungguh senang hati tergusur dengan kegiatan menulis ini.

Selamat menikmati cerita pertama saya di buku Rumah Kedua yang tentu saja masih jauh dari sempurna, tapi percayalah naskah tersebut lahir dengan momentumnya ke dunia dan saya bidani dengan penuh cinta.

Meskipun terdengar sedikit kemaki, semoga tulisan itu memberi energi.

2 Comments

Add Comment

Leave a Reply to Robert Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap