Duri Ikan Duri Kehidupan

“Aduh aduuuh” rintihku sambil memegang leher. “Sakiiit!”

Rasa nyeri dan perih di tenggorokan menghentikanku dari makan siang. Kuraih gelas di sebelah piring tempat selar goreng menggeletak tersantap separuh jalan. Ikan sialan! Aku gelontorkan seluruh isi gelas namun duri bergeming, menancap erat di tenggorokan.

Aku lari ke dapur, tergesa kubuka rice cooker. Setelah nasi aku kepal-kepalkan kemudian aku berkonsentrasi menelan dengan penuh penghayatan. Kubayangkan si duri menempel lengket pada nasi lalu terbawa menuju saluran pencernaan.

Nasi tertelan tapi duri ikan masih tertinggal dengan posisi melintang membuatku semakin kesakitan. “Alamak jaaan!” 

Setelah segala cara aku kerahkan dari yang masuk akal sampai yang di luar pikiran karena asal comot dari Google, mesin pencarian, akhirnya aku pasrah menerima kenyataan.

Perutku sudah tak mampu menampung bergalon-galon air, berkepal-kepal nasi, seplastik besar marshmelow dan masih banyak lagi.

Duri ikan menyiksaku dua hari dua malam bagai mengujiku dalam duri kehidupan.

Masihkah aku akan menjadi pemakan ikan atau sudah selesai sekian? Ini sungguh menyakitkan wahai ikan.

Seminggu kemudian….

“Trauma itu bisa membelokkan nasib manusia loh,” kataku memecah keheningan. “Jadi kita harus berhati-hati merawat trauma,” lanjutku pada suatu pagi ketika aku dan suami dalam rutinitas menyiapkan diri menyambut hari.

“Busyet!” balas suami, nadanya kaget, tidak siap dengan pembicaraan berat. “Masih pagi nih, ngopi juga belum!”

Sambil meratakan serum muka di depan kaca aku melanjutkan bicara.

“Coba kalau kita sedikit-sedikit luka batin lalu trauma,” kataku sambil mengoles krim berikutnya setelah serum muka teroles rata.  “Apa jadinya kita di masa depan sana?”

Kadang aku merasa dikerjai produsen skincare, kenapa mereka nggak menggabungkan produknya sekali oles beres? Kenapa harus ini dulu lalu itu lalu ina lalu inu sampai berlapis-lapis kaya wafer?

Ah tapi aku tak punya pilihan selain terus mengoles dengan sabar sebagai ikhtiar merawat muka yang merupakan bagian dari diriku yang harus aku perhatikan.

Membayangkan Sandra Dewi setiap bercermin terutama saat-saat ribet ritual mengoles, ternyata cukup ampuh menyeret kesabaranku berproses.

Bukan, bukan memproses mukaku supaya cantik seperti Sandra Dewi. Itu sih bak melawan gaya gravitasi bumi. Cukup terawat saja seperti muka dia aku sudah bahagia.

“Maksud kamu gimana?” Pertanyaan suami membuyarkan Sandra Dewi, membawaku kembali ke masalah duri. “Bisa tolong diterjemahkan ke bahasa manusia?” permintaan yang aku artikan dia tertarik dan ingin aku melanjutkan bicara. 

“Eh, permisi sebentar,” dia menggagalkan mulutku yang sudah terbuka siap bicara. “Aku mau ambil baju” lanjutnya nyengir, sambil menggiringku keluar dari orbit kaca karena posisiku menutupi lemari bajunya. “Sorry...minggir sebentar darling awas alisnya miring…”

Kadang aku heran kenapa dia selalu mengganggu dengan tepat waktu. Benar-benar tampak seperti gangguan yang terencana dengan sempurna dan diamini semesta. Membuat alis itu kan prosesi sakral dari seluruh rangkaian make up wanita. Sungguh sebuah gangguan yang paripurna.

“Tragedi menyakitkan aku menelan duri ikan kemarin itu loh, “ kataku menjemput kejadian minggu lalu. Dia berhenti sejenak memilah baju, tampak berusaha mengingat-ingat kemudian mengangguk-angguk ya ya aku ingat kejadian itu.

“Tau nggak? Kejadian itu akan mempengaruhi keputusan hidupku seterusnya kalau aku tidak berhati-hati memaknai” jelasku dengan nada bak memulai kuliah sambil tak sabar menunggunya memilah. 

Kanan kiri atas bawah semua dipilah padahal selalu berakhir pada kemeja hitam loreng merah.

Hippocampus dan Amygdala bisa bersekongkol menciptakan skenario trauma mengerikan kalau nggak dibatalkan Neocortex” lanjutku yang akhirnya mengorbit kembali pada kaca.

“Aje gile!” pekiknya dengan mimik muka please tolong mudahkanlah urusanku mengunyah kata-katamu. “Bahasa Alien!” lanjutnya geleng-geleng.

“Maksudnya begini…“ Aku sampaikan hukum sebab, “kalau aku memutuskan trauma makan ikan,” lalu aku genapkan dengan hukum akibat, “maka, mulai dari kemarin dan seterusnya aku tidak akan makan ikan lagi.” 

“Kecuali…” pada bagian ini aku kesulitan menahan tawa teringat trauma dia yang membebaniku dengan kerja ekstra. “Seseorang mau membantuku memisahkan mana daging mana duri.”

“Atau…aku hanya akan makan fillet ikan salmon, selama sisa hidup ini,” akhirnya aku meledakkan tawa. “Hahaha!” 

Bak diserang ninja dia langsung pasang kuda-kuda.

Lho, aku bener dong!” dia menangkis serangan. “Aku, kan menjaga diri dari ancaman keselek duri ikan lagi! masuk akal kan?” penjelasan yang  berujung menuntut persetujuan.

“Masuk akal,” aku manggut-manggut menyetujui. “Kan, sudah di ranah keputusan personal, nggak ada benar dan salah” lanjutku menyampaikan alasan persetujuan.

Aku berhenti sejenak memilih warna lipstik lalu melanjutkan. “Trauma itu pada dasarnya niatnya baik, dia ingin melindungi kita dari kejadian serupa di kemudian hari.”

“Nah…!” sambutnya dengan nada puas, pernyataanku klop dengan keputusannya. “Lalu, apa hubungannya trauma dengan nasib? Kan, tadi kamu bilang trauma bisa membelokkan nasib.” Dia bertanya tanpa memalingkan pandangan dari Faith, cupang birunya yang menari-nari meminta jatah sarapan pagi.

Benar kan kostumnya hitam loreng merah lagi, batinku cekikikan.

“Kita ini, mengalami trauma karena memaknai suatu peristiwa dengan penuh emosi,” aku mengurai perlahan memastikan teoriku runut tersampaikan. “Jadi, proses pemaknaan ini lho, yang harus hati-hati karena menentukan keputusan dan sikap kita ke depan.”

“Aku itu…cuma memutuskan enggak makan ikan lagi selain salmon sayangkuuu…” katanya sambil mencubit pipiku, “enggak rugi-rugi amat lah!” nadanya ringan tidak tercium sedikitpun penyesalan. “Nasibku paling cuma belok lima senti.” 

“Lima senti doang, beib!” tegasnya. “Paling-paling…yaaah, cuma nggak bisa membuktikan nikmatnya bawal bakar cabe ijo yang kamu sembah-sembah, itu doang.”

Kamu enggak tau betapa nikmatnya aroma gosong bakaran ikan kena sambel kecap dan cabe ijo sayang…

Aku menelan ludah, jam makan siang masih jauh dari jangkauan radar.

Tapi aku salut dan respek juga dengan keputusannya, toh si pembuat keputusan tidak merasa dirugikan. Dan yang terpenting keputusannya tidak merugikan orang lain. Hanya hukum sebab akibat yang ringan.

Gini deh…coba kita bayangkan, kejadiannya lebih kompleks,” aku menggiring ke inti diskusi. “Traumanya bukan cuma berurusan dengan ikan tapi dengan orang.”

“Oke, misalnya kasus trauma apa?” tanya suami antusias.

“Misalnya…“ aku mencontohkan satu kasus, “ada orang tua yang trauma dengan polisi, saking traumanya dia sampai membenci polisi!”

Tiba-tiba dia menyambar “terus…saking bencinya, anaknya enggak boleh jadi polisi. Bahkan mendoktrin anaknya untuk membenci polisi!” 

Sambaran barusan memberi pertanda dia sudah sepemahaman.

Kan, gawat! yang punya masalah siapa yang kena rentetan traumanya siapa!” kataku bersemangat. “Padahal, bisa jadi anaknya pengen jadi polisi, tapi karena takut sama emak bapaknya lalu terpaksa menjalani profesi yang tidak sesuai hati nurani” lanjutku menggenapi.

“Ckckck…” dia menggelengkan kepala, seakan ingin menghempas skenario mengerikan yang barusan aku andaikan. “Itu sih, enggak cuma belok tapi putar arah nasib! Yang artinya….NYASAR!” lanjutnya menggelegar.

“Makanya, aku pikir kita harus berhati-hati merawat trauma-trauma kita” kataku menutup diskusi sekaligus rangkaian perawatan muka a la Sandra Dewi.

“Ya…ya, ku paham” dia mengangguk-angguk menandakan kami berakhir sejalan pikiran.

“Jadi, nasib kita bisa belok, amit-amit nyasar, karena pemaknaan yang kurang bijaksana pada peristiwa, begitu kan kesimpulannya?” tanyanya meminta konfirmasi konklusi.

Yoi! terkadang, banyak kejadian yang seakan dengan sengaja diulang-ulang ditimpakan, sampai kita memaknai peristiwanya berbeda,” aku menambahkan kesimpulan. “Supaya nasib kita kembali ke arah yang semestinya…” kataku mantap semantap pantulanku di depan kaca.

“Gile…! Teman-temanku pada bete dicerahamin istri,” matanya berbinar-binar. “Aku malah jadi happy begini! kamu sering-sering ceramah ya sayang…” ucapnya sambil mendaratkan kecupan.

“Yah…rejeki orang kan beda-beda” aku membalas kecupan dengan senyuman.

“Yuk, jalan!” ajakku sambil membuka pintu kamar.

Kuy!” balasnya menjinjing tas laptopnya keluar kamar.

Lima jam kemudian…

“Sayang…aku dah di resto bawah office kamu. Antrian panjang, aku pesan sekarang ya! ayam cabe ijo atau ayam bakar?” tanyanya melalui pesan WhatsApp.

“Bawal bakar cabe ijo, please” balasan pesan aku kirim dengan rombongan emoji ikan.

Eh, enggak takut keselek duri lagi?” pesan bernada protes tertampil di layar.

“Enggak, kemarin aku cuma kurang hati-hati. Mulai hari ini aku akan makan ikan dengan lebih hati-hati” sebelum pesan itu kukirim, aku bold bagian penting , lalu aku tambahkan emoji ngeces tiga biji.

Dear ikan, kita masih berteman.

(Tamat)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap