Kue Lumpur Kehidupan

Jika saya diandaikan sebuah buku, tentunya saya adalah Buku Kliping.

Perjalanan hidup saya adalah berupa koleksi kliping, yang saya kumpulkan dari semua perpajangan tangan Tuhan dalam hidup saya, Bu Wien, salah satunya.

Kliping tentang Bu Wien ini menempati satu halaman penuh dalam lembar hidup saya. Potongannya begitu besar dan penting. Isinya tentang :

merayakan suka cita dengan bersahaja.

Waktu itu, belum genap sebulan saya bekerja di perusahaan otomotif Jepang. Tapi kok ya saya ulang tahun. Musibah besar bagi saya karena gaji pertama saja belum masuk kantong, lalu bagaimana saya menjamu rekan kerja? Malam harinya, saya berangkat tidur dengan gelisah membayangkan besok ditodong traktir dan saya cuma bisa nyengir.

Pagi-pagi, saya terkejut, Bu Wien sudah sibuk di dapur. Membuat Kue Lumpur banyak sekali. “Digowo neng kantor Def dibagi-bagi karo konco-koncomu” pesan beliau yang saya sambut dengan sorak sorai. Namun saya cuma bisa diam membantu, khas Defi jaman itu.

Sikap Bu Wien ini membekas sekali untuk saya, beliau mengajarkan sikap hidup yang sesuai kapasitas.

Urip kuwi ora cukup bener neng yo kudu pener.

Sejak saya pindah ke Singapura, Kue Lumpur a la Bu Wien saya praktekkan. Hidup seperlu dan secukupnya. Sesekali saya buat kue lumpur untuk obat kangen.

Sampai suatu hari saya diminta bantu membuat snack untuk acara ramah tamah gereja. Kue Lumpur Bu Wien yang pertama terlintas di otak saya.

Siapa sangka, Kue Lumpur saya menjadi primadona. Setelah itu banyak sekali teman-teman yang suka dan memesannya.

Terima kasih Bu Wien untuk teladannya, Bu Wien tidak hanya memperbaiki cara hidup saya, tetapi juga memberkati saya dengan aliran rejeki melalui Kue Lumpur-nya.

Rest In Love Bu Wien,
You’re Loved, You’re Blessed.

Defi

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap