Sebuah Surat, Kepada Ibu Kartini

Kepada Yang Saya Hormati, Ibu Kartini, di tempat.

Dear Ibu Kartini, ibu apa kabar? iya, mestinya saya tidak perlu lagi menanyakan kabar ibu. Lebih tepat kalau saya menanyakan kabar saya sendiri sebagai perempuan, apa kabar?

Kabar kami, perempuan masa kini, sangat baik bu. Perempuan sudah tidak dikekang dan diatur-atur lagi.

Perempuan sudah bisa menentukan masa depannya sendiri.

Bebas, dari memilih suami sampai memilih warna lipstik untuk dipakai sehari-hari.

Kesempatkan untuk mendapatkan pendidikan tinggi sudah terbuka lebar, tak heran perempuan berprestasi sudah tidak terhitung jumlahnya lagi.

Tulisan-tulisan ibu lah yang menjadi bahan bakar bagi kami. Memperjuangkan emansipasi supaya perempuan tidak dipandang sebelah mata lagi.

Saya lahir di Jawa, hanya saja jauh dari karakter keanggunan dan kelemah-lembutan perempuan Jawa. Saya cenderung bertipe Cut Nyak Dien, yang berjuang gagah berani di medan perang dengan rencong dan bambu runcing. Tak heran teman-teman sering berkomentar, mulut saya pedes kaya pecel karetnya empat, jauh dari manisnya gudeg Jogja.

Pasti ibu mengenal beliau, tapi saya bisa menjamin ibu enggak sempat tik tok an bareng karena sama-sama sibuk. Oh ya, saya lupa, jaman itu belum ada tik tok, hehe.

Tulisan ibu menjadi inspirasi saya, rencong Cut Nyak Dien menjadi sikap gagah saya menghadapi dunia. Maka tak heran saat ini saya menjelma menjadi perempuan berprestasi dan berpendidikan tinggi. Ibu kalau mau tersenyum bangga, silahkan, jangan ditahan.

Tapi bu, ketika pendidikan dan prestasi semakin tinggi, diam-diam ego saya ikut melambung tinggi.

Mungkin ini yang perempuan harus antisipasi.

Saat ini perjuangan kita sudah bukan lagi ambisi untuk emansipasi. Tapi justru mulai menyadari kesejatian diri dan mengantisipasi ego yang membuntuti. Apakah jika sudah sejajar dan mampu berkompetisi mencetak Dollar maupun Rupiah, lalu perempuan menjadi berbeda ketika di rumah?

Tentu ibu berharap kami tetap menjadi puteri sejati, tahu posisi dan selalu mawas diri.

Pendidikan tinggi menjadi bekal di rumah, tempat anak-anak pertama belajar layaknya sekolah. Prestasi tinggi menjadi bekal bertukar pikiran yang sepadan bagi suami, teman berdiskusi, bukan ajang berkompetisi.

“Habis gelap terbitlah terang” begitu ibu katakan.

Semoga kami para Kartini masa kini, mampu menjadi terang dimanapun kami berada.

Selamat Hari Kartini. Tulisan Kartini bukan lagi bahan bakar ambisi untuk emansipasi. Tetapi motivasi dan sikap hati untuk instropeksi diri, perempuan seperti apakah saya ini?

Fransiska Defi

2 Comments

  • Robert Posted April 23, 2021 12:54 am

    Tulisan yang sudah berhasil membuat Panadol di rumah habis, krn pusing yg ga berhenti2.

    Semangat terus menjadi Kartini yg kekinian.

    • Fransiska Defi Posted April 23, 2021 1:58 am

      Hahaha! Bapak Kartono ku sayang 😀

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap